● LIVE
Dunia

Warga Israel Serang Pemukim Palestina di Nablus, Domba Dijarah

R

Redaksi

Warga Israel Serang Pemukim Palestina di Nablus, Domba Dijarah

Singkatnya

Serangan di Beita, Nablus, melukai warga Palestina dan anak-anaknya. Sejumlah domba juga dijarah di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat.

Nablus — Kekerasan terhadap warga Palestina kembali dilaporkan terjadi di wilayah pendudukan Tepi Barat. Pada Jumat, 11 September 2026, sejumlah pemukim Israel menyerang rumah warga Palestina di Beita, wilayah selatan Nablus, hingga menyebabkan seorang pria dan anak-anaknya mengalami luka.

Serangan tersebut juga disertai aksi pengambilan paksa sejumlah domba milik warga setempat. Aksi itu disebut berlangsung ketika pasukan Israel berada di lokasi.

Informasi mengenai serangan tersebut disampaikan oleh sumber-sumber lokal serta Al-Baydar Organization for the Defense of Human Rights. Organisasi hak asasi tersebut menyatakan seorang warga Palestina dan anak-anaknya menjadi korban pemukulan dalam serangan terhadap rumah mereka di Beita.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai tingkat keparahan luka yang dialami korban. Tidak diketahui pula apakah korban harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Sejumlah Rumah Diserang

Sebelum laporan mengenai korban terluka muncul, sumber lokal menyebut serangan juga terjadi di beberapa kawasan di Beita. Dua wilayah yang dilaporkan terdampak adalah Al-Dhahra dan Sahl al-Hara al-Tahta.

Dalam insiden tersebut, rumah-rumah warga Palestina menjadi sasaran serangan. Selain merusak rasa aman masyarakat setempat, aksi tersebut juga dilaporkan berujung pada hilangnya sejumlah ternak milik warga.

Beberapa video yang memperlihatkan dugaan pengambilan domba telah didokumentasikan oleh warga Palestina dan dilihat oleh media Anadolu.

Bagi masyarakat pedesaan di Tepi Barat, ternak bukan sekadar hewan peliharaan. Domba dan kambing merupakan bagian penting dari mata pencaharian keluarga, khususnya bagi komunitas yang menggantungkan hidup pada peternakan dan aktivitas pertanian.

Karena itu, hilangnya ternak dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi keluarga yang menjadi korban.

Kekerasan di Tepi Barat Terus Meningkat

Insiden di Beita terjadi ketika kekerasan terhadap warga Palestina dan properti mereka dilaporkan terus meningkat di Tepi Barat.

Aksi yang dilakukan pemukim Israel mencakup serangan terhadap warga, kerusakan terhadap rumah dan properti, serta pengambilan ternak. Sejumlah kelompok dan organisasi hak asasi manusia telah berulang kali memperingatkan mengenai dampak kekerasan tersebut terhadap komunitas Palestina yang tinggal di wilayah pendudukan.

Data resmi Palestina menunjukkan bahwa pada Agustus 2026 tercatat 628 serangan pemukim Israel di berbagai wilayah Tepi Barat.

Ramallah dan Al-Bireh menjadi wilayah dengan jumlah serangan tertinggi, yakni 157 kasus. Setelah itu, Nablus mencatat 137 serangan, Hebron 120, Bethlehem 73, Tubas 40, Jenin 36, dan Yerusalem 31 serangan.

Angka tersebut menggambarkan tingginya frekuensi kekerasan yang dihadapi masyarakat Palestina dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan tentang Ancaman Pengusiran

Peningkatan serangan terhadap masyarakat Palestina juga mendapat perhatian dari para pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Para rapporteur PBB memperingatkan bahwa meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim, terutama ketika mendapat dukungan atau perlindungan dari struktur negara Israel, dapat menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan komunitas Palestina di wilayah pendudukan.

Situasi tersebut juga dikaitkan dengan kekhawatiran mengenai upaya pemindahan paksa warga Palestina dari tanah mereka.

Saat ini, sekitar 750.000 pemukim Israel diperkirakan tinggal di sekitar 194 permukiman dan 400 pos permukiman di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Permukiman-permukiman tersebut oleh hukum internasional secara luas dianggap ilegal.

Serangan terhadap rumah, warga, maupun sumber penghidupan seperti ternak berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan di kawasan tersebut. Bagi warga Palestina yang tinggal di komunitas pedesaan, tekanan semacam itu dapat berdampak langsung pada kemampuan mereka untuk mempertahankan tempat tinggal dan mata pencaharian.

Peristiwa di Beita menjadi salah satu contoh terbaru dari situasi keamanan yang semakin memburuk di Tepi Barat. Ketika serangan terhadap warga dan properti terus dilaporkan, perhatian internasional terhadap perlindungan masyarakat sipil Palestina dan pencegahan pengusiran paksa juga semakin besar.

Diunggah 12 September 2026 pukul 06.00

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar