● LIVE
Dunia

Tiongkok Usulkan Pusat Riset Padi di Merauke, Iftitah Dorong Kerja Sama Konkret

R

Redaksi

Pemerintah Tiongkok menawarkan kerja sama pembangunan pusat penelitian dan pengembangan (litbang) padi bersama di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Kementrans RI)
Pemerintah Tiongkok menawarkan kerja sama pembangunan pusat penelitian dan pengembangan (litbang) padi bersama di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Kementrans RI)

Singkatnya

Tiongkok menawarkan pusat riset padi bersama di Merauke. Menteri Transmigrasi Iftitah mendorong kerja sama konkret untuk meningkatkan produktivitas dan kesejaht

Beijing – Pemerintah Tiongkok menawarkan kerja sama pembangunan pusat penelitian dan pengembangan (litbang) padi bersama di Merauke, Papua Selatan, untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyambut positif usulan tersebut dan mendorong agar pembahasannya segera ditindaklanjuti secara konkret.

Tawaran itu disampaikan Presiden Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) Huang Sanwen dalam pertemuan dengan Iftitah di Beijing, Senin (12/10/2026). Huang, yang juga merupakan anggota kelompok pimpinan Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok (MARA), mengusulkan penguatan kolaborasi riset untuk meningkatkan produktivitas padi melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan Merauke.

Iftitah menyatakan Indonesia terbuka terhadap usulan tersebut. Menurutnya, kerja sama perlu segera diarahkan pada pembahasan teknis agar menghasilkan program yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya setuju dengan semua usulan tersebut, tinggal kita konkretkan. Saya sangat setuju membuka litbang bersama,” ujar Iftitah.

Ia menilai kolaborasi penelitian pertanian relevan dengan upaya pemerintah mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai pusat produksi pangan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Riset Pertanian untuk Meningkatkan Produktivitas

Iftitah menegaskan, pengembangan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan. Peningkatan produktivitas membutuhkan dukungan benih unggul, teknologi budi daya, pengelolaan air, keterampilan petani, serta kepastian pasar.

Karena itu, ia juga tertarik mempelajari pengembangan padi hibrida dan inovasi pertanian Tiongkok yang berpotensi diterapkan di Indonesia dengan menyesuaikan kondisi agroekologi setempat.

Rencana kerja sama tersebut berpeluang melibatkan Kementerian Transmigrasi, Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta lembaga penelitian pertanian Tiongkok. Sejumlah aspek masih perlu dibahas lebih lanjut, termasuk fokus penelitian, lokasi pelaksanaan, kelembagaan, pembiayaan, dan tahapan implementasi.

Pusat riset yang diusulkan diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga mendukung penerapan teknologi oleh petani, efisiensi usaha tani, dan keterhubungan produksi pangan dengan industri pengolahan.

Transmigrasi Diarahkan Menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Dalam pertemuan tersebut, Iftitah menjelaskan bahwa arah kebijakan transmigrasi Indonesia kini mencakup pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui peningkatan produktivitas, industrialisasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja.

“Transmigrasi hari ini bukan hanya tentang perpindahan penduduk, tetapi bagaimana kita menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, membuka lapangan pekerjaan, dan mengentaskan kemiskinan,” katanya.

Menurut Iftitah, kawasan transmigrasi memiliki potensi berupa ketersediaan lahan dan sumber daya manusia. Namun, pengembangan potensi tersebut membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dan akses pasar.

“Kita memiliki lahan dan tenaga kerja. Yang kita butuhkan adalah penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi, investasi, serta offtaker yang dapat menyerap hasil produksi masyarakat,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, kerja sama riset di Merauke diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian hingga pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Tiongkok Tawarkan Beasiswa dan Transfer Teknologi

Selain penelitian padi, Huang Sanwen menawarkan peluang kerja sama dalam pemanfaatan teknologi digital untuk pertanian dan pengolahan pangan, pengembangan ekonomi pedesaan, serta penerapan ilmu pengetahuan untuk mendukung pengentasan kemiskinan.

Tiongkok juga membuka peluang pendidikan pascasarjana bagi peneliti Indonesia, pertukaran pengetahuan antarlembaga penelitian, dan penyelenggaraan pelatihan jangka pendek.

Iftitah menyambut peluang tersebut karena peningkatan kapasitas sumber daya manusia dinilai penting untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal. Oleh sebab itu, kolaborasi riset diharapkan terhubung dengan pendidikan, pelatihan, serta pendampingan bagi petani dan masyarakat di kawasan transmigrasi.

Perkuat Hilirisasi dan Kepastian Pasar

Dalam kesempatan yang sama, Iftitah menyampaikan potensi komoditas unggulan Indonesia, seperti kelapa, durian, kopi, dan kakao, untuk dikembangkan melalui kemitraan dengan Tiongkok.

Menurutnya, peningkatan produksi perlu diikuti pembangunan industri pengolahan dan perluasan akses pasar agar nilai tambah dapat dinikmati masyarakat di daerah penghasil.

Kementerian Transmigrasi juga menjajaki peluang kemitraan dengan pelaku usaha Tiongkok yang berpotensi menjadi pembeli hasil produksi maupun mitra investasi industri pengolahan di Indonesia.

Penjajakan pusat riset padi di Merauke sendiri merupakan bagian dari pembahasan kerja sama yang sebelumnya telah dilakukan Kementerian Transmigrasi dengan pihak Tiongkok, termasuk untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi Salor.

Melalui pertemuan dengan MARA dan CAAS di Beijing, pemerintah berharap pembahasan dapat berlanjut ke tahap teknis antarlembaga. Tujuannya, memastikan kerja sama penelitian memiliki rencana pelaksanaan yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan kawasan.

Bagi Kementerian Transmigrasi, keberhasilan kolaborasi ini tidak hanya diukur dari pembangunan fasilitas penelitian, tetapi juga dari manfaat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi petani, perkembangan industri pengolahan, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Sumber: Kementerian Transmigrasi RI)

Diunggah 15 Oktober 2026 pukul 23.28

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar