Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air, Kamis 15 Oktober 2026
Redaksi

Singkatnya
BNPB melaporkan karhutla di Sulawesi dan Jawa Tengah. Kebakaran di Banyumas menewaskan satu warga, sementara kekeringan berdampak pada 1.430 KK di Pasuruan.
Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 14–15 Oktober 2026. Salah satu kejadian di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyebabkan seorang warga meninggal dunia dan sekitar satu hektare lahan terbakar.
Berdasarkan laporan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) BNPB hingga Kamis (15/10/2026) pukul 07.00 WIB, kejadian karhutla dilaporkan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah. Sementara itu, kekeringan masih berdampak pada ribuan warga di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Karhutla Banggai Kepulauan Hanguskan 58 Hektare
Di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, kebakaran pada Senin (12/10/2026) menghanguskan lahan seluas sekitar 58 hektare. Kebakaran terjadi di enam titik di Kecamatan Totikum, meliputi Desa Sampaka, Batangbabasal, Salangano, Lopito, Bangpanga, dan Tone.
Berdasarkan laporan BNPB, kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembakaran lahan kebun milik warga yang kemudian merembet ke kawasan hutan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Banggai Kepulauan melakukan asesmen dan pemantauan di lokasi. Penanganan dilakukan melalui pemadaman menggunakan tangki semprot air, pembuatan sekat bakar untuk menghambat perambatan api, serta pemantauan berkala guna mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Hasil pemantauan menunjukkan api telah berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.
Sementara itu, di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, karhutla membakar sekitar 15 hektare lahan di Kelurahan Baruga dan Kelurahan Tande, Kecamatan Banggae Timur. Luas lahan terbakar masing-masing diperkirakan mencapai 10 hektare di Baruga dan lima hektare di Tande.
Hingga Rabu (14/10), api di Kelurahan Tande telah padam seluruhnya. Namun, kebakaran di Kelurahan Baruga masih berlangsung dan dipantau masyarakat setempat.
Kondisi medan pegunungan menjadi kendala pemadaman karena armada pemadam tidak dapat menjangkau titik kebakaran. Masyarakat bersama aparat setempat melakukan pemadaman secara manual, sedangkan BPBD Kabupaten Majene berkoordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan lanjutan.
Kebakaran di Sinjai dan Parigi Moutong Berhasil Dipadamkan
Kejadian karhutla juga dilaporkan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dengan luas lahan terbakar sekitar lima hektare.
Api telah berhasil dipadamkan dan petugas melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa. Penanganan melibatkan BPBD Kabupaten Sinjai, petugas pemadam kebakaran, masyarakat, dan unsur terkait.
Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kebakaran di Desa Kayu Jati, Kecamatan Ongka Malino, menghanguskan sekitar tiga hektare lahan. Api dilaporkan padam pada Rabu (14/10).
BPBD setempat berkoordinasi dengan TNI, Polri, Satuan Polisi Pamong Praja, dan masyarakat untuk melakukan pendataan serta penanganan kejadian.
Satu Warga Meninggal akibat Karhutla di Banyumas
Peristiwa karhutla di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Rabu (14/10) sekitar pukul 12.00 WIB, mengakibatkan satu warga meninggal dunia. Kebakaran tersebut juga menghanguskan sekitar satu hektare lahan.
Menurut laporan BPBD Kabupaten Banyumas, kebakaran diduga bermula dari puntung rokok yang tidak dipadamkan saat korban beristirahat. Api kemudian membakar dedaunan kering di sekitarnya. Dugaan penyebab tersebut merujuk pada laporan awal dan tetap mengikuti hasil penanganan pihak berwenang.
BPBD Kabupaten Banyumas berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan pihak kecamatan untuk melakukan pendataan serta penanganan di lokasi.
Kondisi terakhir pada Rabu (14/10) menunjukkan api telah padam seluruhnya dan korban telah dievakuasi.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa sumber api kecil, termasuk puntung rokok yang masih menyala, berpotensi memicu kebakaran ketika berada di sekitar vegetasi kering.
Kekeringan di Pasuruan Berdampak pada 1.430 KK
Selain karhutla, kekeringan masih berdampak pada masyarakat di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. BNPB mencatat sekitar 1.430 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Pasrepan dan Lumbang terdampak kondisi tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, BPBD Kabupaten Pasuruan telah menyalurkan bantuan sebanyak 11 ritase tangki air. Pemerintah Kabupaten Pasuruan juga menetapkan status siaga darurat kekeringan pada periode 7 Oktober hingga 1 Desember 2026.
Penanganan dilakukan melalui koordinasi pemerintah daerah dan unsur terkait agar kebutuhan dasar masyarakat, terutama air bersih, tetap terpenuhi selama kondisi kekeringan berlangsung.
BNPB Imbau Masyarakat Waspada
BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama saat vegetasi mengering dan akses menuju lokasi kebakaran terbatas.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan sumber api benar-benar padam setelah digunakan. Warga di wilayah terdampak asap juga diimbau menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Jika menemukan titik api atau kepulan asap yang mengindikasikan kebakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada aparat desa, BPBD, atau petugas pemadam kebakaran setempat. Pelaporan juga dapat dilakukan melalui layanan telepon darurat BNPB di nomor 117.
Warga diimbau tidak mendekati titik kebakaran, khususnya di kawasan dengan medan sulit, asap tebal, atau arah rambat api yang tidak menentu.
Adapun masyarakat di wilayah terdampak kekeringan diminta menggunakan air secara bijak, menyimpan cadangan air bersih, serta mengikuti informasi dan arahan pemerintah daerah mengenai distribusi air.
BNPB bersama BPBD dan unsur terkait terus memantau perkembangan kejadian bencana di berbagai wilayah. Upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan keterlibatan masyarakat diharapkan dapat menekan risiko kebakaran serta mengurangi dampak bencana akibat kondisi kering. (Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB))