● LIVE
Nasional

MUI Soroti Karnaval Pekalongan, Sebut Atraksi Bernuansa Satanic Bertentangan dengan Nilai Islam

R

Redaksi

MUI Soroti Karnaval Pekalongan, Sebut Atraksi Bernuansa Satanic Bertentangan dengan Nilai Islam

Singkatnya

MUI menilai atraksi bernuansa satanic dalam Simbang Kulon Night Carnival 2026 di Pekalongan bertentangan dengan nilai Islam dan semangat Maulid Nabi.

Jakarta, 14 September 2026 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti pelaksanaan Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah, yang menjadi perhatian publik setelah sejumlah potongan videonya beredar luas di media sosial. MUI menilai sejumlah atraksi dalam acara tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, terlebih karena kegiatan itu dikaitkan dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

SKNC 2026 pada awalnya digagas sebagai bagian dari kegiatan memperingati Maulid Nabi sekaligus rangkaian khitanan massal ke-61. Namun, kemunculan pertunjukan dengan nuansa mistik, visual menyeramkan, serta simbol-simbol yang dianggap menyerupai ritual satanic memicu kontroversi di tengah masyarakat.

Dilansir laman resmi MUI, Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis mengatakan, ekspresi seni dalam sebuah karnaval pada dasarnya dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan nilai agama. Namun, menurutnya, penggunaan simbol yang identik dengan setan, unsur menakutkan, hingga adegan penyembelihan hewan secara sadis tidak sesuai dengan semangat peringatan Maulid Nabi.

Kiai Cholil menegaskan bahwa Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meneladani akhlak dan sunnah beliau.

"Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Kiai Cholil kepada MUI Digital di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Menurut dia, kegembiraan dalam memperingati kelahiran Rasulullah SAW dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang memberikan edukasi dan memperkuat keimanan. Di antaranya adalah membaca Alquran, memperbanyak shalawat, menyampaikan nasihat keagamaan, serta menghidupkan kisah-kisah keteladanan Nabi.

Kiai Cholil menilai karnaval yang mengandung unsur pendidikan dan kebersamaan tetap dapat menjadi bagian dari ekspresi budaya. Akan tetapi, bentuk pertunjukan tersebut harus tetap memperhatikan batasan nilai-nilai agama.

"Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi," tegasnya.

MUI Soroti Simbol dan Adegan dalam Karnaval

Kontroversi SKNC 2026 semakin mencuat setelah materi pertunjukan yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah talent mengenakan kostum yang menyerupai sosok iblis. Dalam pertunjukan tersebut juga disebut terdapat properti berupa kitab dengan simbol mata satu yang dikaitkan dengan Dajjal, penggunaan obor, serta simbol pentagram terbalik yang secara luas diasosiasikan dengan satanisme.

Namun, bagian yang paling banyak mendapat sorotan adalah adegan penyembelihan seekor kambing di tengah pertunjukan. Dalam video yang beredar, proses tersebut ditampilkan sebagai bagian dari atraksi hingga menimbulkan kesan mengerikan bagi penonton.

Kiai Cholil menilai penyembelihan hewan semestinya dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai dengan ketentuan syariat. Menjadikan proses penyembelihan sebagai tontonan bernuansa horor, terlebih jika dilakukan dengan cara yang dinilai tidak beradab, menurutnya tidak mencerminkan ajaran Rasulullah SAW.

Ia mengingatkan bahwa kegiatan seni dan budaya yang dikemas dalam konteks Islam seharusnya membawa pesan persaudaraan, keguyuban, pendidikan, dan kebaikan. Unsur-unsur tersebut tidak semestinya bergeser menjadi pertunjukan yang menampilkan simbol setan atau kekerasan terhadap hewan.

"Itu bukan ajaran Rasulullah," kata Kiai Cholil.

Maulid Nabi Diminta Kembali pada Nilai Keislaman

Lebih lanjut, Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah tersebut mengimbau masyarakat dan penyelenggara kegiatan Maulid Nabi agar lebih berhati-hati dalam memilih konsep acara. Menurutnya, peringatan Maulid sebaiknya tetap mengacu pada tradisi keislaman yang telah berkembang dan dirumuskan oleh para ulama terdahulu.

Ia merujuk pada pandangan Imam As-Suyuthi mengenai bentuk kegiatan yang dapat dilakukan dalam memperingati Maulid Nabi. Kegiatan tersebut antara lain pembacaan ayat-ayat Alquran, lantunan shalawat, penyampaian mauidhoh hasanah atau nasihat yang baik, kisah keteladanan Rasulullah, serta penyediaan makanan sebagai bentuk syukur dan sedekah.

Dengan pendekatan tersebut, peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan sosial bagi masyarakat.

Kiai Cholil berharap pemerintah daerah, panitia kegiatan, tokoh agama, serta masyarakat dapat bersama-sama menjaga agar ekspresi seni budaya Islami tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan ajaran agama.

Menurutnya, kreativitas dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan tetap diperlukan. Namun, kreativitas tersebut harus dibarengi dengan pertimbangan terhadap nilai, simbol, pesan, dan dampak yang ditimbulkan kepada masyarakat.

Ia juga berharap momentum Maulid Nabi dapat menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan meningkatkan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.

"Jangan menyimpang," pesannya.

MUI pada akhirnya mengingatkan bahwa semangat utama peringatan Maulid Nabi adalah menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kegiatan yang mengatasnamakan perayaan Maulid diharapkan mampu menghadirkan suasana yang menyejukkan, mendidik, memperkuat keimanan, sekaligus membangun kebersamaan di tengah masyarakat.

Diunggah 14 September 2026 pukul 15.47

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar