Kejahatan Seksual Digital terhadap Anak di Korea Melonjak Hampir 30 Kali Lipat
Redaksi

Singkatnya
Korban kejahatan seksual digital berusia di bawah 20 tahun di Korea melonjak hampir 30 kali dalam tujuh tahun, di tengah ancaman AI dan deepfake.
Seoul – Kejahatan seksual digital yang menyasar anak dan remaja di Korea Selatan menunjukkan peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah korban berusia 19 tahun ke bawah yang mencari bantuan terkait kejahatan seksual digital tercatat melonjak hampir 30 kali lipat dalam kurun tujuh tahun.
Seperti dilansir laman The Korea Times, data dari National Center for Digital Sexual Crime Response, lembaga pemerintah yang menangani respons terhadap kejahatan seksual digital, menunjukkan sebanyak 3.052 korban berusia 19 tahun atau lebih muda meminta bantuan sepanjang 2025.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan 2018. Saat itu, jumlah korban dari kelompok usia yang sama yang tercatat mencari bantuan hanya mencapai 111 orang.
Lonjakan tersebut menjadi perhatian serius karena menunjukkan semakin besarnya paparan anak dan remaja terhadap berbagai bentuk eksploitasi seksual di ruang digital.
Korban Anak dan Remaja Tembus 3.000 Orang
Jumlah korban anak dan remaja yang tercatat pada 2025 merupakan yang pertama kali menembus angka 3.000 sejak pusat respons tersebut mulai mengumpulkan data terkait pada 2018.
Kondisi ini juga berlangsung di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembuatan konten seksual palsu.
Kelompok usia muda menjadi salah satu kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial dan berbagai layanan internet. Tingginya aktivitas tersebut, di sisi lain, turut meningkatkan peluang mereka terpapar risiko kejahatan seksual berbasis digital.
Secara keseluruhan, anak di bawah umur dan kelompok usia 20-an menyumbang lebih dari 77 persen dari seluruh korban yang memperoleh bantuan dari pusat tersebut.
Data itu memperlihatkan bahwa kejahatan seksual digital tidak hanya menjadi persoalan keamanan internet, tetapi juga telah berkembang menjadi isu perlindungan anak dan generasi muda.
Permintaan Penghapusan Konten Terus Meningkat
Seiring bertambahnya korban, beban penanganan yang dilakukan National Center for Digital Sexual Crime Response juga mengalami peningkatan signifikan.
Jumlah keseluruhan bantuan yang diberikan lembaga tersebut naik dari sekitar 33.000 kasus pada 2018 menjadi lebih dari 352.000 kasus pada 2025.
Sebagian besar layanan yang diberikan berkaitan dengan permintaan penghapusan konten ilegal. Lebih dari 90 persen dukungan yang diberikan pusat tersebut terkait upaya menghapus materi bermasalah yang beredar di internet.
Namun, proses penghapusan tidak selalu mudah. Salah satu kendala utama adalah banyak platform yang menjadi tempat beredarnya konten ilegal tersebut berbasis di luar Korea Selatan.
Kondisi itu membuat penanganan membutuhkan koordinasi dan mekanisme lintas negara, sementara konten digital dapat menyebar dengan sangat cepat dari satu platform ke platform lainnya.
Deepfake Jadi Ancaman yang Makin Serius
Perkembangan teknologi AI turut memperumit upaya pencegahan kejahatan seksual digital. Salah satu bentuk yang mendapat perhatian besar adalah deepfake, yakni konten manipulatif yang dibuat menggunakan teknologi untuk menghasilkan gambar atau video seolah-olah menampilkan seseorang dalam situasi tertentu.
Dalam forum yang membahas persoalan tersebut, sejumlah pakar memperingatkan bahwa respons Korea Selatan terhadap kejahatan seksual berbasis AI masih menghadapi tantangan untuk mengejar perkembangan teknologi.
Penyebaran konten seksual hasil manipulasi AI dinilai berlangsung cepat, sehingga penegakan hukum dan mekanisme perlindungan korban dituntut untuk terus beradaptasi.
Persoalan lain yang muncul adalah tingginya proporsi remaja di antara orang-orang yang diduga terlibat sebagai pelaku. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kejahatan seksual digital tidak cukup ditangani melalui penegakan hukum semata.
Pendidikan Pencegahan Dinilai Penting
Para ahli menilai upaya pencegahan harus berjalan beriringan dengan penindakan terhadap pelaku. Edukasi mengenai keamanan digital, penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, serta pemahaman mengenai konsekuensi hukum menjadi bagian penting dalam mencegah anak dan remaja menjadi korban maupun terlibat sebagai pelaku.
Peningkatan kasus juga menjadi sinyal bahwa perlindungan kelompok usia muda di ruang digital membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.
Selain memperkuat kemampuan aparat dalam menangani kejahatan berbasis teknologi, diperlukan mekanisme yang lebih cepat untuk mendeteksi dan menghapus konten ilegal. Kerja sama dengan platform digital, termasuk perusahaan yang beroperasi dari luar negeri, juga menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan.
Lonjakan jumlah korban dalam tujuh tahun terakhir memperlihatkan bahwa perkembangan ruang digital membawa tantangan baru bagi perlindungan anak. Dengan semakin mudahnya teknologi AI digunakan untuk memproduksi dan menyebarkan konten manipulatif, upaya pencegahan, edukasi, perlindungan korban, serta penegakan hukum perlu terus diperkuat secara bersamaan.