● LIVE
Nasional

BRIN Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau

R

Redaksi

BRIN Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Singkatnya

BRIN dan BMKG memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sistem IDSL/PUMMA belum mendeteksi anomali muka air yang berpotensi memicu tsunami tambahan.

Jakarta, PrajaMedia - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus mendapat pemantauan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mendeteksi sedini mungkin perubahan kondisi gunung api maupun kemungkinan munculnya gangguan di laut yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik.

Hingga pemantauan terakhir, sistem Indonesia Tsunami Detection System/Portable Universal Monitoring for Multihazard Application (IDSL/PUMMA) yang berada di kawasan Rakata belum mendeteksi adanya anomali muka air laut yang berpotensi memicu tsunami tambahan. 

Sistem tersebut memiliki posisi strategis karena berada relatif dekat dengan sumber potensi bahaya di kawasan Krakatau. Selain berfungsi untuk memantau perubahan muka air, IDSL/PUMMA juga menjadi salah satu penghubung informasi dalam pemantauan potensi volcano-tsunami antara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan BMKG.

Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Semeidi, mengatakan keberadaan sistem tersebut sangat penting karena lokasinya yang dekat dengan sumber aktivitas Gunung Anak Krakatau. 

“Keberadaan IDSL/PUMMA sangat dekat dengan sumber potensi tsunami, sehingga bisa cepat mendeteksi. Keberadaannya juga menjembatani PVMBG dan BMKG dalam monitoring dan peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda,” ujar Semeidi seperti dilansir dari InfoPublik, Kamis (10/9/2026).

Menurut Semeidi, tim telah melakukan pengamatan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kemungkinan perubahan muka air laut sejak 4 September 2026. Pemantauan tersebut dilakukan setelah PVMBG melaporkan adanya peningkatan aktivitas gunung api. Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan, data yang diperoleh dari IDSL/PUMMA hingga kini belum memperlihatkan anomali muka air yang mengarah pada potensi bencana tambahan berupa tsunami. 

“Sejauh ini, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami,” jelasnya.

Selain mengandalkan perangkat pemantauan yang berada dekat dengan kawasan sumber bahaya, kemampuan sistem IDSL/PUMMA juga diperkuat oleh dukungan infrastruktur komunikasi. Kondisi tersebut dinilai memberikan keuntungan dibandingkan situasi ketika terjadi aktivitas besar Krakatau pada 2018. 

Semeidi menjelaskan, kawasan pemantauan IDSL/PUMMA kini memperoleh dukungan jaringan seluler GSM dari Telkomsel serta layanan Satelit Telekomunikasi BAKTI. Infrastruktur tersebut membantu proses pertukaran data dan penyampaian informasi mengenai kondisi di lapangan. Dukungan komunikasi itu juga memungkinkan masyarakat, termasuk nelayan yang berada di sekitar kawasan Krakatau, menyampaikan informasi apabila menemukan kondisi yang perlu mendapat perhatian. “Sehingga masyarakat atau nelayan bisa melaporkan langsung kondisi di sana,” kata Semeidi.

Menurut dia, sistem pemantauan yang ditempatkan dekat dengan sumber aktivitas vulkanik mempunyai peran penting dalam mempercepat deteksi apabila terjadi perubahan kondisi. Informasi yang diperoleh kemudian dapat digunakan sebagai bahan koordinasi antara lembaga terkait sebelum informasi maupun peringatan disampaikan kepada masyarakat. 

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga dikaitkan dengan laporan mengenai dentuman keras dan getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat. Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan ledakan atau aktivitas vulkanik gunung api. Namun, berdasarkan data pemantauan yang tersedia, aktivitas tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan pada muka air laut. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa belum terdapat tanda yang mengarah pada potensi atmospheric-tsunami. 

“Namun, sejauh ini tidak cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak terjadi potensi atmospheric-tsunami,” ujar Semeidi.

Kemampuan sistem pemantauan semacam IDSL/PUMMA sebelumnya juga telah terlihat dalam mendeteksi perubahan akibat aktivitas vulkanik besar. Salah satu pengalaman penting terjadi ketika Gunung Hunga Tonga di Pasifik Selatan mengalami erupsi pada 2022. Ledakan besar Hunga Tonga menyebabkan perubahan atmosfer dan memunculkan fenomena atmospheric-tsunami yang dampaknya dapat terdeteksi hingga wilayah Indonesia. 

Pada saat itu, data dan peringatan yang diperoleh sistem pemantauan juga dapat diteruskan kepada BMKG. Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya keberadaan perangkat pemantauan yang mampu mendeteksi perubahan kondisi laut maupun atmosfer secara cepat. Terlebih, Indonesia memiliki sejumlah wilayah yang berhadapan dengan risiko bencana akibat aktivitas gunung api dan perubahan kondisi laut.

BRIN bersama lembaga terkait memastikan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan. Perkembangan data di lapangan akan menjadi bagian dari koordinasi antarlembaga untuk memastikan setiap perubahan yang berpotensi membahayakan dapat diketahui sedini mungkin. 

Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, warga diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. Masyarakat di sekitar Selat Sunda juga diimbau tetap tenang dan mengikuti perkembangan melalui kanal resmi pemerintah dan lembaga kebencanaan. 

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Tim akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi. Apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi,” tutur Semeidi.

Diunggah 10 September 2026 pukul 19.00

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar